Selasa, 20 Oktober 2015

Konsep Termodinamika Termokimia Tugas 3


TUGAS
KIMIA dan PENGETAHUAN LINGKUNGAN INDUSTRI
 





Rangkuman Jurnal Studi Pengaruh Jenis dan Komposisi Katalis pada Proses Pertumbuhan Carbon Nanotube (CNT) dengan Metode Catalytic Chemical Vapour Deposition










DISUSUN OLEH :
NAMA                                              : MOKH ALFAN NOVIANTO
NIM                                                  : 41615110026
FAKULTAS                                     : TEKNIK INDUSTRI



LATAR BELAKANG

Carbon Nanotube merupakan salah satu teknologi nano yang banyak digunakan dalam berbagai ilmu pengetahuan diantaranya dalam bidang elektronik, bidang kimia dan lain lain. Penelitian ini dirancang dengan menggunakan sistem Catalytic Chemical Vapour Deposition (CCVD) untuk sintesis CNT dari gas asetilen dengan menggunakan katalis Co/Al2O3 dan katalis Fe/Al2O3 dengan berat katalis 0,3 gram, suhu operasi 700oC, dan rasio laju alir gas N2 dan gas Asetilen yaitu 1:1.
Teknologi nano merupakan hal baru dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi. Teknologi nano merupakan bentuk perpaduan material-material fungsional, dengan tujuan untuk mempermudah sistem-sistem dengan pengaturan skala panjang nanometer (1-100 nm) beserta fenomena penyebarannya dengan skala tersebut. Nano berarti seper-satu milyar dari sesuatu. Sebagai perbandingan 10 nm adalah 1000 kali lebih kecil dibandingkan dengan diameter dari rambut manusia.
Aplikasi Carbon Nanotube sudah banyak digunakan dalam berbagai bidang ilmu pengetahuan diantaranya : Elektronik, (Sensor kimia-fisika, biosensor, kapasitor, transistor, dll). Bidang Kimia (Elektroda, Penyimpan gas hidrogen, baterai litium, membran separasi, katalis pembantu dan absorben).


HASIL DAN PEMBAHASAN

11.  Sintesis Carbon Nanotube (CNT) dari gas asetilin dengan Metode Catalytic Chemical Vapour Deposition (CCVD) Berbasis Katalis Cobalt.
Sintesis CNT pada penelitian ini menggunakan gas asetilin yang mempunyai ikatan karbon rangkap tiga sehingga bisa dijadikan sebagai sumber karbon dan gas nitrogen sebagai inert yang berguna untuk menghilagkan oksigen dalam stainless steel yang memungkinkan bisa timbulnya reaksi oksidasi. Perbandingan gas asetilin dengan gas Nitrogen 1:1.
Hasil sintesis CNT dari gas asetilin dengan metode CCVD berbasis catalis cobalt dengan komposisi 3% menghasilkan berat CNT yang lebih banyak dibandingkan dengan katalis Co/Al2O3 dengan komposisi 3,5%. Hal ini disebabkan karena katalis dengan komposisi 3% mempunyai jumlah surface area yang lebih besar sehingga lebih banyak mengikat atom C dari gas asetilin yang digunakan sebagai sumber karbon.

  2. Sintesis Carbon Nanotube (CNT) dari gas asetilin dengan metode Catalytic Chemical Vapour Deposition (CCVD) Berbasis Katalis Fe.
Hasil Sintesis CNT dari gas asetilin dengan metode CCVD berbasis katalis Fe dengan Scanning Electron Microscopy (SEM) dengan komposisi Fe/Al2O3 3% dapat menghasilkan berat CNT 0,8 gram sedangkan dengan katalis Fe/Al2O3 komposisi 3,5% menghasilkan berat CNT 0,3 gram. Hal ini disebabkan karena katalis dengan komposisi 3% mempunyai jumlah surface area yang besar sehingga banyak mengikat atom C dari gas asetilin yang digunakan sebagai sumber carbon dan CNT yang akan dihasilkan pada proses ini berbentuk tipe Multi-walled Nanotube (MWNT).

   3.  Pengaruh Jenis Katalis dalam Sintesis Carbon Nanotube (CNT) dari gas asetilin dengan Metode Catalytic Chemical Vapour Deposition (CCVD).
Sintesis Carbon Nanotube (CNT) dari gas asetilin dengan metode Catalytic Chemical Vapour Deposition (CCVD) menggunakan dua jenis katalis yang berbeda yaitu Co/Al2O3 dan Fe/Al2O3 dengan berat yang sama sebesar 0,3 gram degnag perbandingan laju alir gas 1:1. Didapatkan berat produk CNT yang dihasilkan dari katalis Fe/Al2O3 lebih banyak hal ini karena katalis Fe yang digunakan dalam sintesis CNT mempunyai active sites yang lebih besar dalam proses dekomposisi karbon serta katalis juga mempunyai kecenderungan yang kuat untuk aglomerasi dengan atom lain (karbon) karena sifat kemagnetannya.
Ukuran partikel katalis sangat berpengaruh diameter karbon yang terbentuk dimana diameter carbon nanotube yang terbentuk semakin membesar seiring dengan penambahan konsentrasi cobalt.
Dalam pembentukan carbon nanotube dengan metode CCVD,katalis memiliki peranan penting diantaranya mengkatalisasi proses dehidrogenasi molekul Acetylen sehingga menghasilkan ikatan yang terdiri dari atom C. Nano partikel Co dan Fe akan berperan sebagai awal mula membentuk struktur tubular pada Carbon Nanotube.

   4. Pengaruh Kalsinasi (dalam Proses Pembuatan Katalis) dalam Sintesis Carbon Nanotube (CNT) dari gas asetilin dengan Metode Catalytic Chemical Vapour Deposition (CCVD).
Sintesis Carbon Nanotube (CNT) dari gas asetilin dengan metode Catalytic Chemical Vapour Deposition (CCVD) menggunakan dua jenis katalis dengan perlakuan yang berbeda selama pembuatan katalis yaitu Co/Al2O3 3% dan Fe/Al2O3 3% yang dikalsinasi dengan berat kalatis Co/Al2O3 3% dan Fe/Al2O3 3% tanpa kalsinasi dengan berat katalis sebesar 0,3 gram dengan perbandingan laju alir gas asetilin dan gas nitrogen 1:1.
Sintesis CNT menggunakan katalis yang sudah dikalsinasi dan menggunakan katalis tanpa dikalsinasi memberikan efek yang berbeda pada proses pertumbuhan CNT dengan katalis yang tidak dikalsinasi tidak terbentuk CNT dan dengan katalis yang sudah dikalsinasi.
Sintesis CNT dengan menggunakan katalis yang sudah dikalsinasi akan terbentuk CNT dengan struktur pipa-pipa tubular, Sedangkan sintesis dengan katalis yang tidak dikalsinasi tidak dapat terbentuk CNT sama sekali. Dengan kalsinasi akan dapat menghilangkan air yang terjebak dalam pori katalis. Katalis tanpa kalsinasi yang berada dalam stainless stell pada temperatur 700oC hanya akan terjadi proses sintering karena tidak adanya komponen aktif pada permukaan pori katalis.


PELUANG PENELITIAN SELANJUTNYA

Teknologi nano merupakan alat untuk mengontrol material-material yang dibuat dalam ukuran atom dan molekul. Filamen-filamen karbon dengan diameter yang sangat kecil (lebih kecil dari 10nm) dipersiapkan pada tahun 1970.an sampai tahun 1980.an dengan mensintesis uap sehingga menumbuhkan serat-serat karbon dengan dekomposisi hidrokarbon pada temperatur yang tinggi dengan menambahkan katalis logam transisi dengan ukuran diameter partikel <10nm (Kroto dkk 1985, dan Iijima 1991). Meskipun begitu tidak ada yang bisa menjelaskan secara rinci sistematik dari filamen-filamen yang sangat kecil seperti yang sudah ditemukan saat ini.
Dalam sintesis CNT dengan berat katalis dan kondisi operasi yang sama, tetapi konsentrasi komponen aktif pada katalis berbeda memberikan pengaruh terhadap diameter dan berat produk CNT yang dihasilkan. Semakin besar konsentrasi komponen aktif katalis maka diameter CNT yang dihasilkan semakin besar, dan semakin tinggi konsentrasi komponen aktif pada katalis yang digunakan, semakin sedikit berat produk yang dihasilkan.

Penggunaan katalis Co/Al2O3 dan Fe/Al2O3 memberikan pengaruh yang berbeda pada sintesis Carbon Nanotube (CNT), dimana pada CNT yang menggunakan katalis Fe/Al2O3 mempunyai diameter yang lebih besar dan berat produk yang lebih banyak dibanding dengan CNT yang menggunakan katalis Co/Al2O3.

Senin, 19 Oktober 2015

TUGAS
KIMIA dan PENGETAHUAN LINGKUNGAN INDUSTRI
 
 
  

Artikel Korosi Pada Logam Besi









DISUSUN OLEH :
NAMA                                              : MOKH ALFAN NOVIANTO
NIM                                                  : 41615110026
FAKULTAS                                     : TEKNIK INDUSTRI


A. Pengertian Korosi atau Perkarataan
Korosi atau perkaratan logam merupakan proses oksidasi sebuah logam dengan udara atau elektrolit lainnya, dimana udara atau elektrolit akan mengami reduksi, sehingga proses korosi merupakan proses elektrokimia.

B. Proses terjadinya karat
Korosi terjadi melalui reaksi redoks, di mana logam mengalami oksidasi, sedangkan oksigen mengalami reduksi. Karat logam umumnya berupa oksida atau karbonat. Karat pada besi berupa zat yang berwarna cokelat-merah dengan rumus kimia Fe2O3·xH2O. Oksida besi (karat) dapat mengelupas, sehingga secara bertahap permukaan yang baru terbuka itu mengalami korosi. Berbeda dengan aluminium, hasil korosi berupa Al2O3 membentuk lapisan yang melindungi lapisan logam dari korosi selanjutnya. Hal ini dapat menerangkan mengapa panic dari besi lebih cepat rusak jika dibiarkan, sedangkan panci dari aluminium lebih awet.
Korosi secara keseluruhan merupakan proses elektrokimia. Pada korosi besi, bagian tertentu dari besi sebagai anode, di mana besi mengalami oksidasi.
Fe(s) à Fe2+(aq) + 2e–
Elektron yang dibebaskan dalam oksidasi akan mengalir ke bagian lain untuk mereduksi oksigen.
O2(g) + 2 H2O(l) + 4e–à 4 OH–(l)
Ion besi(II) yang terbentuk pada anode akan teroksidasi membentuk besi(III) yang kemudian membentuk senyawa oksida terhidrasi Fe2O3·xH2O yang disebut karat.

C. Penyebab terjadinya  karat
Berdasarkan pengetahuan tentang mekanisme korosi, Kita dapat menyimpulkan faktor-faktor apa yang menyebabkan terbentuknya korosi pada logam sehingga korosi dapat dihindari.

Percobaan / Praktikum Faktor-Faktor yang Dapat Menyebabkan Korosi
Tujuan :
Menjelaskan faktor-faktor yang dapat menyebabkan korosi.

Alat :
Tabung reaksi
Paku
Amplas

Bahan :
Air
CaCl2
Oli
NaCl 0,5%
Aseton

Langkah Kerja :
Sediakan 5 buah tabung. Masing-masing diisi dengan paku yang permukaannya sudah diampelas dan dibersihkan dengan aseton.
Tabung 1 diisi dengan sedikit air agar sebagian paku terendam air dan sebagian lagi bersentuhan dengan udara.
Tabung 2 diisi dengan udara tanpa uap air (tambahkan CaCl2 untuk menyerap uap air dari udara) dan tabung ditutup rapat.
Tabung 3 diisi dengan air tanpa udara terlarut, yaitu air yang sudah dididihkan dan tabung ditutup rapat.
Tabung 4 diisi dengan oli agar tidak ada udara maupun uap air yang masuk.
Tabung 5 diisi dengan sedikit larutan NaCl 0,5% (sebagian paku terendam larutan dan sebagian lagi bersentuhan dengan udara.
Amati perubahan yang terjadi pada paku setiap hari selama 3 hari.

Pertanyaan :
Bagaimana kondisi paku pada setiap tabung reaksi? Pada tabung manakah paku berkarat dan tidak berkarat?
Setelah dibiarkan beberapa hari, logam besi (paku) akan terkorosi yang dibuktikan oleh terbentuknya karat (karat adalah produk dari peristiwa korosi).Korosi dapat terjadi jika ada udara (khususnya gas O2) dan air. Jika hanya ada air atau gas O2 saja, korosi tidak terjadi. Adanya garam terlarut dalam air akan mempercepat proses korosi. Hal ini disebabkan dalam larutan garam terdapat ion-ion yang membantu mempercepat hantaran ion-ion Fe2+ hasil oksidasi.
Kekerasan karat meningkat dengan cepat oleh adanya garam sebab kelarutan garam meningkatkan daya hantar ion-ion oleh larutan sehingga mempercepat proses korosi. Ion-ion klorida juga membentuk senyawa kompleks yang stabil dengan ion Fe3+. Faktor ini cenderung meningkatkan kelarutan besi sehingga dapat mempercepat korosi.

Kesimpulan yang menyebabkan karat pada besi:
1. Kelembaban udara
2. Elektrolit
3. Zat terlarut pembentuk asam (CO2, SO2)
4. Adanya O2
5. Lapisan pada permukaan logam
6. Letak logam dalam deret potensial reduksi

D. Persamaan reaksi pembentukan karat
Pada daerah anodik (daerah permukaan yang bersentuhan dengan air) terjadi pelarutan atom-atom besi disertai pelepasan elektron membentuk ion Fe2+ yang larut dalam air.
Fe(s) → Fe2+(aq) + 2e–(ANODE)
Elektron yang dilepaskan mengalir melalui besi, sebagaimana elektron mengalir melalui rangkaian luar pada sel volta menuju daerah katodik hingga terjadi reduksi gas oksigen dari udara:
O2(g) + 2H2O(g) + 2e– → 4OH–(aq)(KATODE)
Ion Fe2+ yang larut dalam tetesan air bergerak menuju daerah katodik, sebagaimana ion-ion melewati jembatan garam dalam sel volta dan bereaksi dengan ion-ion OH– membentuk Fe(OH)2. Fe(OH)2 yang terbentuk dioksidasi oleh oksigen membentuk karat.
Fe2+(aq) + 4OH–(aq) → Fe(OH)2(s)
2Fe(OH)2(s) + O2(g) → Fe2O3.nH2O(s)
Reaksi keseluruhan pada korosi besi adalah sebagai berikut:

4Fe(s) + 3O2(g) + n H2O(l)


2Fe2O3.nH2O(s)

Karat

E. Oksidator dan reduktor
Sejak dulu, para pakar kimia sudah mengetahui bahwa oksigen dapat bereaksi dengan banyak unsur. Senyawa yang terbentuk dari hasil reaksi dengan oksigen dinamakan oksidasehingga reaksi antara oksigen dan suatu unsur dinamakanreaksi oksidasi.
P4(s) + 5O2(g) →2P2O5(g)
Karat besi adalah senyawa yang terbentuk dari hasil reaksi antara besi dan oksigen (besi oksida). Perkaratan besi merupakan salah satu contoh dari reaksi oksidasi. Persamaan reaksi pembentukan oksida besi dapat ditulis sebagai berikut.
4Fe(s) + 3O2(g) → 2Fe2O3(s)
Pada reaksi tersebut, besi mengalami oksidasi dengan cara mengikat oksigen menjadi besi oksida. Kebalikan dari reaksi oksidasi dinamakan reaksi reduksi. Pada reaksi reduksi terjadi pelepasan oksigen. Besi oksida dapat direduksi dengan cara direaksikan dengan gas hidrogen, persamaan reaksinya:
Fe2O3(s) + 3H2(g)→2Fe(s) + 3H2O(g)
Contoh:
C(s) + O2(g)→CO2(g) (reaksi oksidasi)
CO(g) + H2(g) →C(s) + H2O(g) (reaksi reduksi)
2SO2(g) + O2(g) →2SO3(g) (reaksi oksidasi)
CH4(g) + 2O2(g)→CO2(s) + 2H2O(g) (reaksi oksidasi).

F. Hasil Analisis
Hasil analisis dari logam besi yang berubah menjadi karat adalah Korosi atau perkaratan logam merupakan proses oksidasi sebuah logam dengan udara atau elektrolit lainnya, dimana udara atau elektrolit akan mengami reduksi, sehingga proses korosi merupakan proses elektrokimia,
dangan proses Korosi terjadi melalui reaksi redoks, di mana logam mengalami oksidasi, sedangkan oksigen mengalami reduksi.

Penyebabnya  antara lain :
1.      Kelembaban udara
2.      Elektrolit
3.      Zat terlarut pembentuk asam (CO2, SO2)
4.      Adanya O2
5.      Lapisan pada permukaan logam
6.      Letak logam dalam deret potensial reduksi
   Untuk itu persamaan reaksi pembentukan karatnya dapat dituliskan dengan :
Fe(s) → Fe2+(aq) + 2e–(ANODE)
O2(g) + 2H2O(g) + 2e– → 4OH–(aq) (KATODE)
Reaksi keseluruhan pada korosi besi adalah sebagai berikut :
4Fe(s) + 3O2(g) + n H2O(l)
2Fe2O3.nH2O(s)
Karat
Karat besi adalah senyawa yang terbentuk dari hasil reaksi antara besi dan oksigen (besi oksida). Perkaratan besi merupakan salah satu contoh dari reaksi oksidasi. Persamaan reaksi pembentukan oksida besi dapat ditulis sebagai berikut.
4Fe(s) + 3O2(g) → 2Fe2O3(s)
Pada reaksi tersebut, besi mengalami oksidasi dengan cara mengikat oksigen menjadi besi oksida. Kebalikan dari reaksi oksidasi dinamakan reaksi reduksi. Pada reaksi reduksi terjadi pelepasan oksigen. Besi oksida dapat direduksi dengan cara direaksikan dengan gas hidrogen, persamaan reaksinya:
Fe2O3(s) + 3H2(g)→2Fe(s) + 3H2O(g).

G. Kesimpulan
Korosi atau perkaratan logam merupakan proses oksidasi sebuah logam dengan udara atau elektrolit lainnya, dimana udara atau elektrolit akan mengami reduksi, sehingga proses korosi merupakan proses elektrokimia.

1. Proses terjadinya perkaratan :
Korosi terjadi melalui reaksi redoks, di mana logam mengalami oksidasi, sedangkan oksigen mengalami reduksi.

2. Penyebab terjadinya karat :
1. Kelembaban udara
2. Elektrolit
3. Zat terlarut pembentuk asam (CO2, SO2)
4. Adanya O2
5. Lapisan pada permukaan logam
6. Letak logam dalam deret potensial reduksi.

3. Persamaan reaksi pembentukan karat :
Anode:Fe(s) → Fe2+(aq) + 2e–
Katode: O2(g) + 2H2O(g) + 2e– → 4OH–(aq)

4. Oksidator dan reduktor :
reaksi oksidasi, pada reaksi tersebut besi mengalami oksidasi dengan cara mengikat oksigen menjadi besi oksida. Kebalikan dari reaksi oksidasi dinamakan reaksi 
Pada reaksi reduksi terjadi pelepasan oksigen.