|
Life
Cycle Assessment Pabrik Semen PT. Holcim Indonesia Tbk. Pabrik Cilacap :
Komparasi
Antara Bahan Bakar Batu Bara dengan Biomassa
DISUSUN
OLEH :
NAMA :
MOKH ALFAN NOVIANTO
NIM :
41615110026
FAKULTAS :
TEKNIK INDUSTRI
Life Cycle Assessment Pabrik Semen PT. Holcim
Indonesia Tbk. Pabrik Cilacap :
Komparasi Antara Bahan Bakar Batu Bara dengan
Biomassa
Nama Penulis : Taufan Ratri Harjanto, Moh. Fahrurrozi, I
Made Bendiyasa
Tahun Terbit : 2012
Link : http://jurnal.ugm.ac.id/jrekpros/article/download/4696/3956
1. Latar Belakang :
PT. Holcim
Indonesia Tbk. Pabrik Cilacap dengan kapasitas produksi 2,6 juta ton/tahun
telah menggunakan sekam padi sebagai energi alternatif biomassa.Akan tetapi
Penggantian batubara dengan biomassa akan menimbulkan suatu permasalahan baru
yaitu, berapa besar konstribusi emisi (gas buang) dan dampak lain yang
dihasilkan oleh penggunaan bahan bakar alternatif tersebut didalam industri
semen. Penelitian ini bertujuan untuk
mengevaluasi dampak lingkungan penggunaan batubara dan biomassa dengan
menggunakan metode Life Cycle
Assessment (LCA). Life Cycle
Analysis (LCA) atau sering juga disebut Life Cycle Assessment merupakan sebuah metode berbasis cradle to grave (analisis keseluruhan
siklus dari proses produksi hingga pengolahan limbah) yang digunakan untuk
mengetahui jumlah energi, biaya, dan dampak lingkungan yang disebabkan oleh
tahapan daur hidup produk dimulai dari saat pengambilan bahan baku sampai
dengan produk itu selesai digunakan oleh konsumen.
2. Cara Penelitian :
Penelitian
dilakukan mengacu pada langkah–langkah studi Life Cycle Assessment berdasarkan ISO 14040 tahun 2006, yang
dibagi menjadi empat tahap yaitu: (1) tahap identifikasi awal, (2) tahap
pengumpulan data, (3) tahap pengolahan data dan (4) tahap interpretasi hasil
dan kesimpulan.
3. Hasil dan Pembahasan :
Analisis Inventori :
Inventori
dilakukan berdasarkan input dan
output material didalam sistem.
Data Input terdiri dari:
kebutuhan bahan baku, energi/kelistrikan, air, dan alat transportasi yang
digunakan. Data output berupa
produk semen dan emisi yang dilepaskan terhadap lingkungan disetiap prosesnya.
Berdasarkan
hasil analisis kontribusi dampak terhadap lingkungan dengan menggunakan bahan
bakar sesuai dengan langkah-langkah cara penelitian 1,2,3, dan 4 untuk
menghasilkan 1000 kg semen didapatkan nilai kontribusi total berturut-turut
2,78 x 10-1 Pt, 2,24 x 10-1 Pt, 1,57 x 10-1 Pt, dan 8,50 x 10-2 Pt. Dan dari
Hasil analisis kontribusi tersebut dapat diketahui bahwa penggunaan Biomassa
lebih ramah terhadap lingkungan.
Penilaian Dampak / Impact Assessment :
Analisis
dampak pada penelitian ini menggunakan metode Impact 2002+. Analisis impact
assessment terbagi menjadi tiga analisis yaitu, analisis characterization impact assessment, damage
impact assessment dan analisis single
score impact assessment.
A.
Characterization
impact assessment :
merupakan penilaian besarnya
substansi yang berkontribusi pada kategori impact didalam produksi semen berdasarkan faktor
karakterisasinya.
B.
Damage
impact assessment :
Analisis damage impact assessment digunakan untuk mengevaluasi dampak
kerusakan yang dihasilkan berdasarkan dampak karakterisasinya.
C.
Single
score impact assessment :
Metode yang diterapkan didalam
penentuan single score adalah
dengan skala kontribusi urutan nilai tertinggi
yang berpengaruh pada keempat skenario produksi semen terhadap faktor
kerusakan berdasarkan Impact 2002+.
Dari hasil single score keempat
skenario Kontribusi terbesar berpengaruh terhadap efek Global Warming,
respiratory inorganic, dan non renewable energy/resource.
Interpretasi :
Interpretasi adalah langkah terakhir dalam tahapan
LCA sebelum membuat keputusan dan rencana tindakan. Metode analisis yang dapat
dilakukan adalah dengan metode pendekatan analisis kontribusi yang bertujuan
untuk mengidentifikasi data yang memiliki kontribusi terbesar terhadap hasil
indikator dampak.
A. Analisis
Kontribusi :
Analisis kontribusi digunakan dengan tujuan untuk mengetahui
proses atau tahap didalam jejaring proses produksi semen yang memiliki
kontribusi paling dominan, sehingga pengambilan keputusan dan perbaikan
terhadap sistem menjadi tepat dan efektif sesuai dengan tujuan penelitian.
B. Analisis
Perbaikan :
Dari hasil analisis penakaran dampak dan kontribusi diketahui
bahwa permasalahan utama yang menjadi perhatian untuk direkomendasikan
perbaikan lingkungan adalah penggunaan batubara pada pyroprocessing dan distillate
fuel oil sebagai bahan bakar alat-alat transportasi.
Prioritas pertama adalah transportasi yang digunakan saat ini
untuk mengangkut pasir silika menggunakan truck dan kereta api. Dengan digantinya angkutan truck pengangkut pasir silika dengan
kereta api dapat menghemat penggunaan bahan bakar minyak sehingga akan
mereduksi kontribusi dampak terutama pada jalur transportasi.
Prioritas kedua adalah dengan tanaman miscanthus giganteus (alang-alang raksasa) sebagai bahan
substitusi batubara. Beberapa keunggulan dari tanaman ini adalah, dalam 1
hektar menurut Profesor Stephen P. Long dari University of Illinois tahun 2004
mampu menghasilkan biomassa 20 ton dan tahan terhadap cuaca sehingga
diperkirakan akan mampu menyerap CO2 sebesar 569 ton/ha/tahun (Dahlan, 1992).
4.
Kesimpulan
:
Berdasarkan hasil analisis
kontribusi dampak terhadap lingkungan dengan menggunakan bahan bakar sesuai
dengan skenario 1, 2, 3, dan 4 untuk menghasilkan 1000 kg semen didapatkan
nilai kontribusi total berturut-turut 2,78 x10-1 Pt, 2,24 x10-1 Pt, 1,57 x10-1
Pt, dan 8,50 x10-2 Pt. Dari hasil analisis kontribusi tersebut penggunaan
biomassa lebih ramah terhadap lingkungan.
Pada keempat skenario pemakaian bahan bakar dampak yang paling
berpengaruh adalah global warming,
respiratory inorganic dan resources.
Secara umum kontribusi dampak terhadap lingkungan tertinggi berasal dari tahap pyroprocessing, kemudian disusul dari
alat transportasi yang digunakan.
Berdasarkan analisis perbaikan, truck sebagai alat transportasi pengangkut silika diganti dengan
menggunakan kereta api, sehingga terjadi pengurangan kontribusi nilai sebesar
6,00 x10-4 Pt terhadap impact category
global warming, 2,00 x10-3 Pt terhadap impact category respiratory inorganic dan 6,00 x10-4 Pt terhadap
impact category non renewable energy.
5.
Peluang
Penelitian Lanjutan :
Penelitian ini dilakukan dalam
skala kecil (1000 kg) maka dapat dilakukan penelitian dengan skala yang lebih
besar yaitu skala produksi PT. Holcim Indonesia Tbk. Karena terjadi kemungkinan
apabila penelitian dilakukan dalam skala besar akan mempengaruhi hasil
outputnya.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar